Sudah beberapa bulan ini, sebagian besar dari kita terbiasa beraktivitas #dirumahsaja. Hal ini memunculkan satu pertanyaan besar di kalangan praktisi Monitoring dan Evaluasi (MONEV): Apakah kerja-kerja evaluasi tetap bisa berjalan
Tulisan ini sebenarnya adalah catatan hasil Diskusi yang diselenggarakan sebagai kolaborasi InDEC dan Human Initiative dengan topik yang berjudul MONEV dalam kondisi Pandemi Covid-19. Dalam diskusi ini, anggota InDEC yang menjadi narasumber adalah mbak Ratnayu Sitaresmi dan mbak Ima Susilowati, keduanya merupakan praktisi monev dan juga evaluator yang sudah malang melintang di jagad per-evaluasi-an Indonesia. Diskusi ini juga dipandu oleh moderator, bung Nanda Sirajulmunir, seorang praktisi monev yang mengelola sebuah social enterprise bernama SOLIDARITAS, yang memberikan yang memberikan layanan-layanan bagi lembaga-lembaga yang ingin mengembangkan sistem MONEV untuk organisasi atau proyek/program mereka. Diskusinya sih dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2020 silam. Cukup lama ya. Mohon maaf baru menuliskan sekarang. Tapi saya berharap masih relevan sampai saat ini dipublikasikan.
Dari “Kunlap” (Kunjungan Lapangan) Menjadi “Kunjungan Laptop”
Menurut para narasumber, kewajiban melakukan MONEV tidak berhenti hanya karena pandemi. Desain evaluasi pada dasarnya tidak banyak berubah, namun penyesuaian terbesar ada pada metode pengumpulan data.
Karena kunjungan lapangan fisik tak lagi leluasa, kita beralih ke “kunjungan laptop”. Wawancara dilakukan secara virtual, dan proses penggalian data (probing) menuntut detail dan durasi yang lebih panjang untuk menambal absennya observasi langsung.
Tentu saja, transisi ini membawa sejumlah tantangan nyata di lapangan:
- Tumbangnya Metode FGD: Rencana awal untuk memfasilitasi Focus Group Discussion (FGD) secara daring (misalnya via Google Docs) seringkali harus dibatalkan karena isu koneksi internet yang tidak stabil. Solusinya? FGD diganti dengan wawancara mendalam (in-depth interviews) untuk memotret efek langsung program dari kacamata informan.
- Infrastruktur & Keamanan Data: Memilih platform (Zoom, Skype, MS Teams, WA Call) tak sekadar soal selera, tapi juga keharusan mematuhi protokol Data Protection dari pengelola proyek. Belum lagi urusan literasi teknologi informan, fitur perekaman (recording), dan keharusan memiliki Rencana A, B, hingga C jika koneksi atau gawai tiba-tiba ngadat.
- Hilangnya “Kelekatan” (Building Rapport): Wawancara daring seringkali terasa kurang dinamis dan melelahkan secara fisik (Zoom fatigue). Jadwal yang diatur terlalu padat membuat kita kehilangan waktu untuk membangun kedekatan personal. Akibatnya, membaca kondisi psikologis informan—terutama untuk program isu sensitif seperti kekerasan—menjadi sangat menantang.
- Kebutuhan Observasi Fisik: Bagaimana jika program mensyaratkan observasi infrastruktur? Jawabannya adalah kolaborasi. Kita perlu menyiapkan checklist observasi yang ringkas dan mendelegasikan pengumpulan data kepada observer lokal yang berada di lokasi.
Praktik Baik Menjaga Kualitas Data di Ruang Virtual: Dari Layar ke Hati
Lalu, bagaimana para praktisi menyiasati tantangan-tantangan komunikasi virtual di atas? Dari hasil obrolan, ada beberapa best practices yang terbukti ampuh untuk diterapkan di lapangan:
1. Strategi Video: Seni Membaca Situasi di Balik Layar Di era Zoom fatigue, interaksi daring seringkali terasa dingin dan kaku. Sebagai evaluator, kitalah yang harus membawa ‘nyawa’ ke dalam ruang virtual. Hidupkan kamera Anda di awal sesi—tunjukkan wajah yang ramah dan antusiasme yang tulus. Ini adalah kunci utama untuk mentransfer semangat dan membangun rapport dengan informan.
Namun, empati dan fleksibilitas adalah segalanya. Jika Anda melihat suara informan mulai putus-putus atau video mereka patah-patah, ambil inisiatif: “Bapak/Ibu, sepertinya sinyal sedang kurang bersahabat, kita sepakat matikan kamera saja ya agar obrolannya lebih lancar.” Selain itu, jadikan tombol mute sebagai sahabat Anda. Mute mikrofon saat informan sedang bercerita panjang lebar. Keheningan dari sisi Anda—tanpa suara gangguan dari luar atau ketikan keyboard—adalah bentuk validasi dan atensi terbaik bahwa Anda seratus persen mendengarkan mereka.
2. Bagi Peran: Anda Evaluator, Bukan Superman Melakukan wawancara daring itu menguras energi jauh lebih cepat. Mata lelah menatap layar, telinga harus ekstra fokus menebak suara di balik sinyal yang buruk, sementara otak harus terus meracik pertanyaan probing. Aturan emasnya: jangan pernah mencoba menjadi Superman.
Hindari merangkap tugas sebagai pewawancara sekaligus notulen. Bawalah satu rekan kerja yang mendedikasikan dirinya untuk mencatat key findings dan merekam jalannya diskusi. Dengan mendelegasikan tugas ini, Anda bisa hadir sepenuhnya untuk informan. Anda jadi punya ruang untuk menangkap jeda yang ragu-ragu, intonasi suara yang berubah, dan menggali jawaban mereka jauh lebih dalam.
3. Pendekatan Triangulasi: Menjadi Detektif yang Elegan Dalam MONEV, satu versi cerita tidak pernah cukup. Kita wajib melakukan cross-check atau triangulasi informasi kepada beberapa pihak yang berbeda. Tantangannya adalah: bagaimana mengklarifikasi data yang janggal tanpa membuat informan merasa diinterogasi?
Kuncinya ada pada kehalusan bertutur. Misalnya Anda menemukan perbedaan klaim antara staf program dan penerima manfaat. Jangan menyudutkan dengan berkata, “Kata staf A begini, kok Ibu bilangnya beda?” Sebaliknya, jadikan informasi tersebut sebagai umpan diskusi yang elegan: “Ibu, sebelumnya kami sempat mendengar cerita tentang [sebutkan isunya], bagaimana pengalaman Ibu sendiri terkait hal tersebut?” Pendekatan ini menjaga ruang diskusi tetap aman dan membuat informan nyaman untuk bersikap jujur.
4. Validation Workshop: Mengedepankan Kolaborasi, Bukan Konfrontasi Setelah semua data dianalisis, tahapan paling krusial adalah memvalidasinya. Jangan biarkan Validation Workshop berubah menjadi ajang ‘penghakiman’ atau adu argumen, terutama ketika ada temuan evaluasi yang kurang memuaskan bagi tim proyek.
Ubah mindset forum tersebut menjadi ruang kolaborasi. Saat mempresentasikan data, gunakan bahasa yang mengundang diskusi konstruktif: “Dari hasil obrolan kami di lapangan, temuan sementaranya seperti ini. Menurut teman-teman tim proyek, apakah temuan ini sudah menangkap situasi yang sebenarnya? Atau mungkin ada konteks lapangan yang terlewat oleh kami?” Pendekatan ini terbukti ampuh menurunkan sikap defensif dan justru seringkali melahirkan insight baru yang memperkaya hasil evaluasi.
Checklist Persiapan MONEV di Era Pandemi
Sebagai modal turun “lapangan” (baca: ke depan laptop) bagi kawan-kawan MONEVers, pertimbangkan ketujuh hal berikut sebelum mengeksekusi pengumpulan data:
- [ ] Konteks Program: Pahami Kedalaman Isu. Apakah isu program cukup dan pantas digali secara virtual? Isu-isu teknis mungkin mudah ditanyakan via Zoom, namun untuk program dengan isu sensitif (seperti penanganan konflik atau kekerasan), Anda mungkin butuh pendekatan ekstra untuk membangun ruang aman (safe space) bagi informan, meski terhalang layar.
- [ ] Jenis Informasi: Kenali Batasan Virtual. Evaluasi dengan cermat kelengkapan data yang Anda butuhkan. Jika MONEV mensyaratkan observasi wujud fisik (seperti pembangunan fasilitas), data daring tidak akan pernah cukup. Pertimbangkan opsi kolaborasi dengan merekrut sumber daya lokal/enumerator setempat sebagai “mata dan telinga” Anda di lokasi.
- [ ] Kombinasi Metode: Jangan Bergantung pada Satu Pintu. Jika memang harus serba virtual, padukan berbagai instrumen untuk keperluan triangulasi. Misalnya, lengkapi wawancara mendalam Anda dengan kuesioner kuantitatif singkat menggunakan SurveyMonkey atau Google Form yang disebar via WhatsApp, tentunya dengan sistem reminder yang ramah.
- [ ] Penjaminan Kualitas: Pantang Menunda Review. Lakukan quick review internal bersama tim sesegera mungkin setelah sesi wawancara usai, selagi ingatan masih segar. Langkah ini krusial untuk mengecek kecukupan data. Jika ada jawaban yang masih menggantung, Anda bisa segera mengatur strategi untuk sesi follow-up.
- [ ] Manajemen Waktu: Jaga Napas Tim. Wawancara daring menuntut fokus visual dan pendengaran yang ekstra, sehingga jauh lebih melelahkan. Petakan pertanyaan prioritas agar durasi wawancara tetap rasional (idealnya tidak lebih dari 60-90 menit). Hindari jadwal marathon yang bisa membuat tim burnout di tengah jalan.
- [ ] Kesiapan Infrastruktur: Jangan Asumsi Semua Orang Paham Teknologi. Cek ombak sebelum eksekusi. Pastikan platform yang dipilih tidak hanya lolos standar keamanan data (data protection), tetapi juga familiar dan ramah pengguna bagi informan. Jangan sampai waktu berharga Anda habis hanya untuk memandu informan menyalakan mikrofon.
- [ ] Dukungan Administratif: Daring Bukan Berarti Informal. Jangan lupakan etika birokrasi. Meskipun pelaksanaannya dari ruang tamu rumah masing-masing, wawancara evaluasi tetaplah agenda profesional. Pastikan surat pengantar, izin resmi, dan lembar informed consent tetap disiapkan dan dikirimkan, terutama jika informan berbicara mewakili kapasitas institusinya.
Menatap Masa Depan MONEV
Apakah gaya virtual ini akan terus berlanjut pasca-pandemi? Ataukah kita akan kembali ke “gaya lama”?
Preferensi ideal tentu masih menginginkan kunjungan lapangan secara fisik, karena ada insight dan nuansa informal yang sulit ditangkap lensa kamera. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa platform daring menawarkan efisiensi biaya dan kemudahan menjangkau berbagai wilayah secara bersamaan.
Ke depan, pendekatan kombinasi (hybrid) tampaknya akan menjadi kelaziman baru. Tidak semua hal bisa di-virtual-kan, sehingga ketajaman evaluator dalam memilih porsi online dan offline akan sangat diuji.
Untuk tahun 2021, mari terus bereksplorasi dan berinovasi dengan metodologi evaluasi yang lebih beragam, kawan-kawan MONEVers!
SELAMAT BER-MONEV DENGAN NEW NORMAL di TAHUN 2021
Video Diskusi ada di link Youtube di bawah ini:
Note: InDEC itu komunitas para praktisi MONEV, – lihat dan pantau FB Page-nya ya – sebagai wadah berinteraksi buat mereka yang perduli dengan kerja-kerja evaluasi pembangunan di Indonesia, dan yang ingin mengembangkan kemapuan keprofesiannya bersama-sama. Sedangkan Human Initiative – silahkan di lihat website-nya ya – adalah lembaga yang melakukan banyak program dan pengembangan inovasi untuk upaya-upaya kemanusiaan. .